Puisi Karawang-Bekasi dan Sekilas Sejarahnya
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Karawang – Bekasi
Karya : Chairil Anwar
Kami yang
kini terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kami
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
menjaga Bung Hatta
menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Chairil Anwar sendiri lahir pada tanggal 26 Juli 1922 di kota Medan. Di
awal tahun 1940-an nama Chairil Anwar mulai terkenal terutama di kalangan
sastrawan. Nama Chairil mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan
puisinya yang berjudul Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru
berusia 20 tahun. Puisi Karawang-Bekasi, Persetujuan dengan Bung Karno, dan
puisi lainnya yang terkenal yaitu Aku menjadikan nama Chairil Anwar semakin
melegenda dan hingga akhirnya membuat beliau dijuluki sebagai ‘Si Binatang
Jalan’ yang diambil dari karyanya yang berjudul Aku.
Chairil Anwar telah menciptakan banyak karya-karya sastra dalam bentuk
puisi. Kumpulan puisi-puisinya sudah sangat terkenal di kalangan masyarakat.
Puisi-puisi yang dikarang oleh Chairil Anwar selalu berhasil menghadirkan
sajak-sajak yang indah dan tak heran karyanya masih abadi hingga kini.
Awal mula terjadinya pertempuran Karawang-Bekasi tepatnya di Rawagede. Dalam operasinya di daerah Karawang, tentara Belanda mencari Kapten Lukas Kustario, komandan kompi Siliwangi -kemudian menjadi Komandan Batalyon Tajimalela/Brigade II Divisi Siliwangi- yang berkali-kali berhasil menyerang patroli dan pos-pos militer Belanda. Di wilayah Rawagede juga berkeliaran berbagai laskar, bukan hanya pejuang Indonesia namun juga gerombolan pengacau dan perampok. Sebelumnya kapten Lukas Kustario juga menabrak kereta pembawa senjata Belanda dengan lokomotif yang ia kendarai dan mengambil senjata yang diangkut kereta tersebut.
Pada 9 Desember 1947, Tentara Belanda mengepung desa Rawagede dan menggeledah setiap rumah dimana kapten Lukas pernah singgah pagi sebelumnya. Namun mereka tidak menemukan kapten Lukas dan sepucuk senjatapun. Mereka kemudian memaksa seluruh penduduk keluar rumah masing-masing dan mengumpulkan di tempat yang lapang. Penduduk laki-laki yang berusia 14 tahun keatas diperintahkan untuk berdiri berjejer, kemudian mereka ditanya tentang keberadaan para pejuang Republik. Meskipun mereka tau bahwa kapten Lukas Kustario telah meninggalkan Rawagede namun tidak satupun rakyat yang mengatakan tempat persembunyian para pejuang tersebut.
Perwira Tentara Belanda kemudian memerintahkan untuk menembak mati semua penduduk laki-laki, termasuk para remaja dan bahkan ada yang baru berusia 11 dan 12 tahun. Beberapa orang berhasil melarikan diri ke hutan, walaupun terluka kena tembakan. Saih, kini berusia 83 tahun menuturkan, bahwa dia bersama ayah dan para tetangganya sekitar 20 orang jumlahnya disuruh berdiri berjejer. Ketika tentara Belanda memberondong dengan senapan mesin - istilah penduduk setempat: "didredet"- ayahnya yang berdiri di sampingnya tewas kena tembakan, dia juga jatuh kena tembak di tangan, namun dia pura-pura mati. Ketika ada kesempatan, dia segera melarikan diri.
Hari itu tentara Belanda membantai 431 penduduk Rawagede. Tanpa ada pengadilan, tuntutan ataupun pembelaan. Seperti di Sulawesi Selatan, tentara Belanda di Rawagede juga melakukan yang mereka namakan eksekusi di tempat (standrechtelijke excecuties). Tindakan yang jelas merupakan kejahatan perang. Diperkirakan korban pembantaian lebih dari 431, karena banyak yang hanyut dibawa sungai yang banjir karena hujan deras.
Hujan yang mengguyur mengakibatkan genangan darah membasahi desa tersebut. Yang tersisa hanya wanita dan anak-anak. Keesokan harinya, setelah tentara Belanda meninggalkan desa tersebut, para wanita menguburkan mayat-mayat dengan peralatan seadanya. Seorang ibu menguburkan suami dan 2 orang putranya yang berusia 12 dan 15 tahun. Mereka tidak dapat menggali lubang terlalu dalam, hanya sekitar 50 cm saja. Untuk pemakaman secar Islam, yaitu jenazah ditutup dengan potongan kayu, mereka terpaksa menggunakan daun pintu, dan kemudian diurug tanah seadanya, sehingga bau mayat masih tercium selama berhari-hari.
(dirangkum dari berbagai sumber)
Terima kasih sudah membaca artikel ini.
Yang ada di Karawang
/ masyarakat Karawang yang ingin melaksanakan syukuran dengan Aqiqah Murah Karawang Nurul Hayat, kami rekomendasikan menggunakan Jasa Aqiqah Karawang Nurul Hayat.
Selain rasanya yang enak dan mantap, Layanan Aqiqah Karawang Nurul Hayat ini
sudah melayani syukuran para artis dan ustad ibu kota lho.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya



Komentar
Posting Komentar